Bayangan mu
Semakin ku berlari semakin jelas wajah mu membayangi
Di malam ini hujan semakin membawaku ke mimpi
Mimpi untuk dapat memiliki dan memeluk mu kembali
Ku harap itu hanya sebuah mimpi, dan hanya akan menjadi mimpi
Dosa itu, sekali lagi aku tunjuk dosa itu
Dosa yang telah memberi ku sebuah tujuan
Nafsu, mengapa harus nafsu yang selalu menjadi segala alasan
Mengapa tidak aku, aku yang selalu dan selalu tertipu oleh nafsu
Satu pertanyaan yang sangat sering menyudutkan ku
Tetapi hanya senyum yang bisa ku berikan untuk jawaban itu
Tangis, mungkin kau tak melihat hati ini menangis
Tak mendengar hati ini menjerit, tetapi kau hanya tau aku tersenyum
Sudahlah..
Kini aku telah bermimpi terlalu lama
Sangat lama, hingga sosok mu seakan kembali ada
Tersenyumlah, tertawalah dan bahagialah untuk malam yang enggan aku kenang
Kamu, Akan Selalu Kamu
Saat hati ku berbisik peluh, enggan ku ungkapkan dengan bibir ku
Dia lah yang ku kenang sebagai bisikan rindu di masa itu
Sebagian jiwa ku membeku di telan sang waktu
Seluruh hidup ku cacat oleh luka di kalbu karena mu
Seniman di sudut senja mencoba mengukir wajah di rona hati
Pelukis malam ungkapkan tangisan di sejuknya pagi hari
Diam, hanya bisa diam tanpa serpihan kenangan yang nyata di sini
Di sudut waktu mungkin hanya bisa menunggu dan menanti
Meraba waktu yang nyata di bawah terangnya sinar bulan purnama
Tetes aliran kenangan mulai membasahi kenyataan yang ku lewati
Jerit rindu yang slalu ada di bayangan nyata ku
Rindu segala belai kasih sayang mu di masa itu, di masa itu
Senyum ku dengan jelas terhapus oleh kepergian mu
Mata ku berbicara dengan keras karena melihat mu menjauh
Aku masih di sudut senja untuk menjemput wanita seperti mu
kamu, hanya kamu dan akan selalu seperti kamu yang mampu mengisi hati